Langsung ke konten utama

Politik Retorika di Balik Kalimat "Orang Desa Tak Pakai Dolar"

 Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa "orang desa tidak pakai dolar" muncul di tengah melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh sekitar Rp17.600 per dolar AS. Dalam pidatonya di Jawa Timur, prabowo mencoba menenangkan publik dengan menyatakan bahwa masyarakat desa tidak terdampak langsung karena mereka tidak bertransaksi menggunakan dolar.

Masalahnya, pernyataan semacam ini bukan sekadar ucapan spontan. Ia merupakan bentuk politik retorika : cara kekuasaan membingkai realitas agar keresahan publik tampak berlebihan. Retorika bekerja bukan dengan menyangkal fakta secara total, melainkan dengan menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kalimat yang terdengar menenangkan. Dalam konteks ini, pelemahan rupiah direduksi seolah hanya berdampak bagi orang yang bepergian ke luar negeri atau melakukan transaksi internasional, padahal struktur ekonomi Indonesia justru sangat bergantung pada rantai pasok global.

Orang desa memang tidak membeli cabai memakai dolar. Tetapi pupuk, BBM, kedelai, gandum, pakan ternak, obat pertanian, sparepart mesin, hingga ongkos distribusi pangan dipengaruhi kurs dolar. Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Ketika biaya impor naik, harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong. Pada titik inilah dampak dolar masuk ke dapur warga desa, meskipun mereka tidak pernah memegang mata uang asing itu secara langsung.

Ironisnya, pernyataan tersebut datang dari seorang kepala negara yang justru sangat aktif melakukan perjalanan diplomatik internasional. Dalam satu rangkaian lawatan luar negeri pada 2025, Prabowo mengunjungi Arab Saudi, Brasil, Belgia, dan Prancis untuk membahas kerja sama pertahanan, ekonomi, dan investasi internasional. Diplomasi internasional tentu penting bagi negara modern. Namun muncul kontradiksi simbolik ketika pemerintah di satu sisi aktif membangun relasi ekonomi global yang bergantung pada stabilitas dolar dan investasi asing, sementara di sisi lain menyampaikan narasi bahwa rakyat desa tidak perlu memikirkan dolar.

Kontradiksi ini memperlihatkan jarak antara elite politik dan realitas masyarakat. Negara memahami betul pentingnya stabilitas kurs bagi investasi, perdagangan, dan fiskal negara. Jika dolar memang dianggap tidak penting bagi kehidupan rakyat, maka tidak mungkin pemerintah dan Bank Indonesia melakukan intervensi pasar, menjaga cadangan devisa, atau menyesuaikan subsidi energi ketika rupiah melemah. Bahkan laporan Reuters menyebut pemerintah meningkatkan subsidi bahan bakar dan Bank Indonesia melakukan intervensi pasar valuta asing untuk menahan tekanan rupiah.

Secara akademis, pelemahan rupiah bukan isu sepele. Penelitian mengenai dinamika USD/IDR tahun 2025 menunjukan adanya depresiasi rupiah yang signifikan secara statistik pasca perubahan politik global di Amerika Serikat. Studi tersebut menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar memiliki implikasi serius terhadap stabilitas negara berkembang seperti Indonesia. Dalam ekonomi politik global, negara berkembang seperti Indonesia sangat rentan terhadap gejolak kurs karena ketergantungan impor bahan baku dan energi masih tinggi.

Karena itu, narasi "orang desa tidak pakai dolar" sesungguhnya lebih dekat pada pengalihan persepsi publik dibanding penjelasan ekonomi yang utuh. Pemerintah mencoba mengubah fokus masyarakat dari persoalan struktural menjadi persoalan psikologis : seolah masalahnya ada pada kepanikan warga, bukan pada lemahnya fondasi ekonomi dan tingginya ketergantungan terhadap pasar global.

Implikasi sosial dari pernyataan manipulatif semacam ini jauh lebih berbahaya dibanding sekedar kontroversi sosial media. Pertama, ia menciptakan normalisasi terhadap penurunan kualitas hidup. Ketika harga kebutuhan naik akibat kurs dolar, masyarakat diarahkan untuk menganggap itu bukan masalah serius. Akibatnya, kritik terhadap kebijakan ekonomi dianggap berlebihan atau bahkan anti-negara.

Kedua, retorika seperti ini memperlebar ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Di media sosial, banyak warga justru merespons dengan satire dan kemarahan karena merasa pengalaman hidup mereka diabaikan. Beberapa komentar publik menyinggung bagaimana harga Indomie, kedelai, BBM, hingga plastik tetap dipengaruhi dolar meskipun dikonsumsi masyarakat desa. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang antara bahasa kekuasaan dan pengalaman riil masyarakat.

Ketiga, manipulasi retoris berpotensi mematikan diskursus kritis. Ketika pemerintah terus menerus memakai narasi simplikasi, maka ruang publik perlahan dipenuhi optimisme semu, sementara persoalan struktural soal ketimpangan, ketergantungan impor, dan lemahnya daya beli tidak benar-benar diselesaikan.

Dalam sejarah politik modern, kekuasaan sering bertahan bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat kemampuan mengendalikan bahasa. Kalimat sederhana dapat menjadi alat politik untuk meredam keresahan sosial. Karena itu, masyarakat perlu belajar membedakan antara pernyataan yang menenangkan dan pernyataan yang menjelaskan. Sebab tugas pemimpin bukan sekedar membuat rakyat tenang, tetapi juga jujur terhadap realitas yang sedang dihadapi bangsanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geber Jum'at dan Krisis Prioritas Pembangunan Majalengka

 Di tengah banyaknya persoalan struktural yang dihadapi Kabupaten Majalengka, Pemerintah Kabupaten justru terlihat sibuk membangun politik seremonial melalui program "Geber Jum'at". Program ini diproyeksikan sebagai simbol kedekatan pemerintah dengan masyarakat melalui kerja bakti, bersih-bersih, dan mobilisasi aparatur di ruang publik. Sekilas memang terlihat positif. Kamera berjalan, pejabat turun ke jalan, dokumentasi tersebar di media sosial, dan narasi “pemerintah hadir” terus diproduksi. Tetapi pertanyaan paling mendasar justru muncul: apakah Majalengka hari ini benar-benar membutuhkan seremoni mingguan, atau membutuhkan keberanian menyelesaikan problem pembangunan yang jauh lebih mendesak?. Masalah terbesar pemerintahan Eman-Dena bukan sekadar soal program, melainkan soal arah prioritas pembangunan yang tampak kabur. Ketika masyarakat masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan pendidikan, infrastruktur yang belum merata, dan tekanan ekonomi pasca industrialisasi, pem...

Ditjen Pesantren : Pisau Bermata Dua?

Di tengah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, keberadaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menaungi pesantren tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang besar. Pesantren hari ini bukan lagi lembaga pinggiran, melainkan bagian penting dari sistem pendidikan nasional. Data Kementerian Agama menunjukkan jumlah pesantren telah melampaui empat puluh ribu dengan jutaan santri yang tersebar di berbagai daerah. Angka ini menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar warisan tradisi, tetapi juga kekuatan sosial yang hidup dan terus berkembang. Dalam konteks tersebut, kehadiran negara melalui Ditjen Pesantren sering dipahami sebagai langkah afirmatif. Pengakuan formal melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah mengangkat posisi pesantren dari sekadar lembaga kultural menjadi bagian sah dari sistem pendidikan nasional. Konsekuensinya, pesantren mendapatkan akses terhadap sumber daya negara, mulai dari pendanaan, program peningkatan kualitas, hingga penguatan...

Ketika yang Dasar Justru Terabaikan

Gizi dan pendidikan kerap disebut sebagai dua pilar utama dalam pembangunan manusia. Keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Namun dalam praktik kebijakan, relasi ideal ini sering kali tidak berjalan seimbang. Ada kecenderungan di mana satu aspek didorong lebih cepat, sementara yang lain justru tertinggal, meski sama-sama bersifat mendasar. Situasi di Majalengka memperlihatkan hal tersebut secara nyata. Di satu sisi, fasilitas pemenuhan gizi dapat dibangun dengan cepat dan dalam kondisi layak. Di sisi lain, masih terdapat ruang belajar yang rusak dan belum mendapatkan penanganan yang setara. Kontras ini bukan sekadar persoalan teknis atau kebetulan administratif, melainkan mencerminkan bagaimana arah prioritas kebijakan ditentukan. Persoalan utamanya bukan pada penting atau tidaknya program pemenuhan gizi. Kebutuhan nutrisi anak jelas merupakan hal yang krusial. Namun, ketika program tersebut justru melaju lebih cepat dibanding perbaikan infrastruktur pendidikan dasar, mu...