Di depan gedung dewan, guru honorer berdiri dengan tuntutan yang sebenarnya sangat sederhana: kejelasan status dan kepastian penghasilan. Tidak ada jargon besar, tidak ada konsep rumit. Hanya permintaan agar kerja yang mereka lakukan setiap hari di ruang kelas dihargai secara layak. Ironisnya, kesederhanaan tuntutan itu justru berhadapan dengan kompleksitas alasan yang terus diproduksi oleh pemerintah untuk menundanya. Di saat yang sama, negara bergerak cepat menjalankan berbagai agenda besar. Program berskala nasional dibicarakan dengan optimisme tinggi, anggaran disiapkan, dan target ditetapkan dengan penuh percaya diri. Dalam logika pembangunan, ini sering dianggap sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam membawa perubahan. Namun ketika kecepatan itu tidak pernah sampai pada penyelesaian persoalan guru honorer, muncul pertanyaan yang tidak bisa lagi dihindari: siapa sebenarnya yang dianggap prioritas?. Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya proyek besar. Negara memang membutu...