Pertanyaan "adakah Islam di Papua?" mungkin terdengar sederhana. Bahkan sebagian orang akan menganggapnya pertanyaan yang aneh. Bukankah Papua juga bagian dari Indonesia? Bukankah di sana ada masjid, pesantren, organisasi Islam, dan muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya?. Secara faktual, jawabannya jelas : ada. Islam bukanlah sesuatu yang asing di Papua. Sejarah mencatat bahwa Islam bahkan telah hadir di beberapa wilayah Papua jauh sebelum integrasi Papua ke dalam Republik Indonesia. Di Fakfak, Kaimana, Raja Ampat, dan sejumlah wilayah pesisir lainnya, Islam tumbuh melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Namun setelah menyaksikan film Pesta Babi, pertanyaan itu terasa memiliki makna yang berbeda. Yang dipertanyakan bukan keberadaan umat Islam secara fisik, melainkan keberadaan nilai-nilai Islam dalam menghadapi persoalan kemanusiaan yang sedang terjadi di Papua. Adakah Islam ketika tanah masyarakat adat dirampas atas nama investasi?. Adakah Islam ketika hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat dihancurkan atas nama pembangunan?. Adakah Islam ketika suara kelompok lemah kalah oleh kepentingan modal dan kekuasaan?.
Film Pesta Babi mengajak kita melihat Papua dari sudut pandang yang jarang muncul dalam pemberitaan nasional. Papua tidak hanya digambarkan sebagai wilayah konflik atau daerah yang membutuhkan pembangunan. Papua ditampilkan sebagai ruang hidup masyarakat adat yang sedang menghadapi tekanan besar akibat ekspansi proyek-proyek skala besar. Dalam konteks ini, babi bukan sekadar hewan ternak. Ia merupakan simbol budaya, sumber ekonomi keluarga, bagian dari ritual sosial, dan penyangga identitas masyarakat setempat. Ketika ruang hidup masyarakat terancam, maka yang terancam bukan hanya aspek ekonomi, tetapi juga kebudayaan dan martabat manusia.
Di sinilah saya mulai bertanya : mengapa suara organisasi-organisasi Islam tidak terlalu terdengar ketika isu Papua dibahas?. Padahal dalam tradisi Islam, keberpihakan kepada kelompok tertindas merupakan prinsip yang sangat mendasar. Al-Qur'an berkali-kali menegaskan pentingnya membela kaum mustadh'afin, kelompok yang dilemahkan oleh struktur kekuasaan dan ketidakadilan. Nabi Muhammad SAW pun menunjukkan bahwa agama tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tentang pembelaan terhadap hak-hak manusia.
Masalahnya, selama ini Papua sering dibaca melalui kacamata politik identitas. Ketika mendengar Papua, sebagian orang langsung melihat perbedaan agama, suku, atau orientasi politik. Akibatnya, solidaritas kemanusiaan sering kalah oleh prasangka-prasangka yang dibangun selama bertahun-tahun. Kita lebih sibuk bertanya siapa mereka daripada apa yang sedang mereka alami. Padahal ajaran Islam tidak pernah mensyaratkan kesamaan identitas sebagai dasar untuk membela keadilan.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa umat Islam merupakan kelompok agama terbesar kedua setelah Kristen di Papua. Jutaan warga muslim hidup, bekerja, dan menjadi bagian dari masyarakat Papua. Nahdlatul Ulama juga memiliki struktur organisasi dan aktivitas sosial yang cukup aktif. Artinya, secara kelembagaan Islam memang hadir. Tetapi kehadiran fisik belum tentu berbanding lurus dengan kehadiran moral.
Film Pesta Babi secara tidak langsung mengajukan pertanyaan yang cukup mengganggu : apakah umat Islam di Indonesia cukup peka terhadap penderitaan yang terjadi di Papua?. Ataukah kita hanya akan bersuara ketika korbannya memiliki identitas yang sama dengan kita?. Pertanyaan ini penting karena salah satu penyakit terbesar dalam kehidupan sosial kita hari ini adalah selektivitas empati. Kita sudah marah ketika ketidakadilan menimpa kelompok tertentu, tetapi diam ketika hal yang sama menimpa kelompok lain.
Dalam perspektif Islam, tanah bukan sekedar komoditas ekonomi. Banyak ulama kontemporer menempatkan perlindungan lingkungan dan ruang hidup masyarakat sebagai bagian dari maqashid syariah, tujuan besar syariat yang berorientasi pada kemaslahatan. Kerusakan ekologis yang menyebabkan hilangnya sumber kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari persoalan keadilan sosial. Ketika hutan hilang, masyarakat kehilangan sumber pangan. Ketika tanah adat hilang, masyarakat kehilangan identitas dan masa depannya. Dan ketika itu terjadi secara sistematis, maka persoalannya bukan lagi pembangunan, melainkan ketimpangan kekuasaan.
Karena itu, refleksi setelah nonton film Pesta Babi tidak seharusnya berhenti pada perdebatan soal boleh atau tidaknya babi dalam agama tertentu. Fokus semacam itu justru membuat kita kehilangan substansi. Yang perlu dibaca adalah realitas sosial yang sedang terjadi di balik simbol tersebut. Film ini sedang berbicara tentang manusia, tentang ruang hidup, tentang ketimpangan pembangunan, dan tentang suara masyarakat yang sering tidak mendapatkan tempat dalam proses pengambilan keputusan.
Maka pertanyaan "adakah Islam di Papua?" pada akhirnya bukanlah pertanyaan tentang jumlah masjid atau banyaknya umat Islam. Pertanyaan itu adalah ujian bagi kita semua. Apakah nilai-nilai Islam yang berbicara tentang keadilan, persaudaraan kemanusiaan, dan keberpihakan kepada yang lemah benar-benar hidup dalam kesadaran kita. Sebab jika Islam hanya hadir dalam bangunan dan simbol, tetapi tidak hadir dalam pembelaan terhadap mereka yang kehilangan tanah, kehilangan hutan, dan kehilangan masa depan, maka yang hilang bukan Papua. Yang hilang justru makna Islam itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Komentar
Posting Komentar