Langsung ke konten utama

Mahalnya Ambisi Negara dan Murahnya Tenaga Guru

 Di depan gedung dewan, guru honorer berdiri dengan tuntutan yang sebenarnya sangat sederhana: kejelasan status dan kepastian penghasilan. Tidak ada jargon besar, tidak ada konsep rumit. Hanya permintaan agar kerja yang mereka lakukan setiap hari di ruang kelas dihargai secara layak. Ironisnya, kesederhanaan tuntutan itu justru berhadapan dengan kompleksitas alasan yang terus diproduksi oleh pemerintah untuk menundanya.

Di saat yang sama, negara bergerak cepat menjalankan berbagai agenda besar. Program berskala nasional dibicarakan dengan optimisme tinggi, anggaran disiapkan, dan target ditetapkan dengan penuh percaya diri. Dalam logika pembangunan, ini sering dianggap sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam membawa perubahan. Namun ketika kecepatan itu tidak pernah sampai pada penyelesaian persoalan guru honorer, muncul pertanyaan yang tidak bisa lagi dihindari: siapa sebenarnya yang dianggap prioritas?.

Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya proyek besar. Negara memang membutuhkan pembangunan, dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Tetapi ambisi tanpa keberpihakan hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Ketika proyek bisa berjalan karena dianggap strategis, sementara nasib guru honorer terus ditunda dengan alasan prosedural, di situ terlihat bahwa yang kurang bukan kemampuan negara, melainkan kemauan politik.

Guru honorer adalah wajah paling jujur dari kontradiksi ini. Mereka mengerjakan fungsi yang selalu disebut penting dalam setiap pidato tentang masa depan bangsa, tetapi ditempatkan dalam kondisi kerja yang serba tidak pasti. Banyak dari mereka yang telah mengabdi bertahun-tahun, mengisi kekosongan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, namun tetap diperlakukan sebagai tenaga tambahan yang bisa menunggu. Dalam bahasa kebijakan, mereka sering disebut sebagai bagian dari proses transisi. Dalam kenyataan, mereka adalah pihak yang terus-menerus dikorbankan oleh proses itu sendiri.

Di titik ini, persoalannya tidak lagi sekedar administratif. Ia berubah menjadi persoalan tentang bagaimana negara memaknai pendidikan. Jika pendidikan benar-benar dianggap sebagai fondasi pembangunan, maka kesejahteraan guru seharusnya menjadi prioritas yang tidak bisa dinegosiasikan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pendidikan di elu-elukan sebagai investasi jangka panjang, sementara tenaga pengajarnya dibiarkan bertahan dengan kondisi jangka pendek yang serba rentan.

Ada kecenderungan yang sulit diabaikan bahwa pembangunan lebih sering diukur dari apa yang terlihat. Infrastruktur, program nasional, dan proyek besar lainnya yang memiliki keunggulan karena dapat ditunjukkan sebagai capaian konkret dalam waktu relatif singkat. Sebaliknya, investasi pada manusia tidak selalu menghasilkan hasil yang bisa langsung dipamerkan. Di sinilah guru honorer kalah. Mereka bekerja di wilayah yang dampaknya baru terasa di masa depan, sementara logika kebijakan sering terjebak pada kebutuhan untuk menunjukkan hasil di masa sekarang.

Ketimpangan ini juga menunjukkan bagaimana politik anggaran bekerja. Anggaran bukan sekadar soal ketersediaan dana, melainkan tentang pilihan. Ketika dana dapat ditemukan untuk menjalankan program besar, tetapi tidak cukup untuk memastikan kesejahteraan guru honorer, maka yang sedang kita lihat bukan keterbatasan, melainkan prioritas. Dan prioritas selalu mencerminkan keberpihakan.

Lebih jauh, lemahnya posisi tawar guru honorer membuat persoalan ini terus berulang. Mereka tidak memiliki akses yang kuat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga suara mereka sering kali baru terdengar ketika sudah berubah menjadi aksi protes. Bahkan setelah itu, respons yang diberikan cenderung bersifat sementara, tanpa perubahan struktural yang benar-benar menyelesaikan masalah. Ini menciptakan siklus yang terus berulang, di mana tuntutan muncul, dijanjikan, lalu kembali ditunda.

Situasi ini menyisakan pertanyaan moral yang tidak sederhana. Apa arti pembangunan jika mereka yang membentuk generasi masa depan justru hidup dalam ketidakpastian. Apa makna kemajuan jika profesi yang paling menentukan arah bangsa diperlakukan sebagai beban anggaran yang masih bisa ditunda. Ketika negara berbicara tentang ambisi besar, tetapi gagal menyelesaikan persoalan yang paling mendasar, maka ambisi itu sendiri perlu dipertanyakan.

Jika ambisi negara terus dibesarkan sementara kesejahteraan guru dikecilkan, maka yang sebenarnya sedang dibangun bukanlah masa depan yang kokoh, melainkan ilusi kemajuan. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa besar proyek yang bisa diselesaikan, tetapi oleh seberapa serius ia menghargai manusia yang menopang seluruh proses itu. Guru honorer telah terlalu lama diminta bersabar. Pertanyaannya, sampai kapan kesabaran itu akan terus dijadikan alasan untuk menunda keadilan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ditjen Pesantren : Pisau Bermata Dua?

Di tengah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, keberadaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menaungi pesantren tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang besar. Pesantren hari ini bukan lagi lembaga pinggiran, melainkan bagian penting dari sistem pendidikan nasional. Data Kementerian Agama menunjukkan jumlah pesantren telah melampaui empat puluh ribu dengan jutaan santri yang tersebar di berbagai daerah. Angka ini menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar warisan tradisi, tetapi juga kekuatan sosial yang hidup dan terus berkembang. Dalam konteks tersebut, kehadiran negara melalui Ditjen Pesantren sering dipahami sebagai langkah afirmatif. Pengakuan formal melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah mengangkat posisi pesantren dari sekadar lembaga kultural menjadi bagian sah dari sistem pendidikan nasional. Konsekuensinya, pesantren mendapatkan akses terhadap sumber daya negara, mulai dari pendanaan, program peningkatan kualitas, hingga penguatan...

Ketika yang Dasar Justru Terabaikan

Gizi dan pendidikan kerap disebut sebagai dua pilar utama dalam pembangunan manusia. Keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Namun dalam praktik kebijakan, relasi ideal ini sering kali tidak berjalan seimbang. Ada kecenderungan di mana satu aspek didorong lebih cepat, sementara yang lain justru tertinggal, meski sama-sama bersifat mendasar. Situasi di Majalengka memperlihatkan hal tersebut secara nyata. Di satu sisi, fasilitas pemenuhan gizi dapat dibangun dengan cepat dan dalam kondisi layak. Di sisi lain, masih terdapat ruang belajar yang rusak dan belum mendapatkan penanganan yang setara. Kontras ini bukan sekadar persoalan teknis atau kebetulan administratif, melainkan mencerminkan bagaimana arah prioritas kebijakan ditentukan. Persoalan utamanya bukan pada penting atau tidaknya program pemenuhan gizi. Kebutuhan nutrisi anak jelas merupakan hal yang krusial. Namun, ketika program tersebut justru melaju lebih cepat dibanding perbaikan infrastruktur pendidikan dasar, mu...

Merayakan Kartini di Tengah Krisis Perlindungan Perempuan

 Setiap tanggal 21 April, publik Indonesia kembali merayakan Hari Kartini sebagai momen penghormatan terhadap Raden Ajeng Kartini dan gagasan emansipasi yang ia perjuangkan. Namun di balik gegap gempita perayaan yang sering kali identik dengan simbol budaya dan seremoni formal, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari. Apa arti merayakan Kartini ketika perlindungan terhadap perempuan justru berada dalam kondisi yang rapuh? Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ia berangkat dari realitas yang terus berulang. Kasus kekerasan berbasis gender, baik di ruang domestik, ruang publik, maupun institusi pendidikan, menunjukkan bahwa perempuan masih berada dalam posisi yang rentan. Negara memang telah menghadirkan berbagai instrumen hukum dan kebijakan, tetapi implementasinya kerap berjalan timpang. Ada jarak yang lebar antara norma yang tertulis dan perlindungan yang benar-benar dirasakan. Dalam konteks ini, perayaan Kartini berisiko terjebak dalam apa yang dapat disebut sebagai simbol...